Catatan "Jongos" Dua Cagub DKI

13 Februari 2017 18:43:06 Diperbarui: 14 Februari 2017 10:46:21 Dibaca : 144416 Komentar : 56 Nilai : 79 Durasi Baca :
Catatan "Jongos" Dua Cagub DKI
"Dokumentasi Pribadi"
In matters of style, swim with the current; in matters of principle, stand like a rock.” —Thomas Jefferson

Tulisan ini bertujuan supaya membagikan apa yang saya ketahui, dari kacamata seorang jongos yang merasakan bekerja di bawah dua orang ini: Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan. Dan mengapa dari awal mendengar Pak Anies maju, saya sudah bersuara mengapa Pak Ahok yang lebih layak memimpin DKI Jakarta.

++

Memori saya kembali kepada masa enam tahun lalu. Nama Indonesia Mengajar baru mulai bergaung, dan sosok Anies Baswedan sangat lekat dengan program ini. Program yang mulia. Saya mendaftar dan diterima.

Teringat waktu pertama kali mendengar beliau langsung memberikan pidato penerimaan kepada kami, para Pengajar Muda istilah kerennya. Saya hanyut dengan berbagai persuasi yang dilontarkan. Memang sungguh inspiratif. Mantra yang sering didengungkan adalah merajut tenun kebangsaan. Barangkali inilah saatnya adanya organisasi yang lintas kultur dan agama yang memang layak untuk didukung anak muda yang ingin merasakan Indonesia sesungguhnya, tanpa hanya dari membaca koran. Saya menangis waktu upacara bendera terakhir bersama para Pengajar Muda sebelum dikirimkan ke daerah. Warna kulit, asal dan agama kami berbeda-beda, tetapi kami dengan spirit yang sama, khidmat upacara menghormati bendera Merah Putih.

Setahu saya, Pak Anies adalah penggagas dan pimpinan Indonesia Mengajar, namun tidak terlibat dalam kepengurusan hariannya. Kepengurusan harian dijalankan oleh orang-orang muda di bawah Hikmat Hardono dengan kantor di Jalan Galuh II Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Teringat bahwa Pak Anies sering ditanya oleh kami Pengajar Muda, apakah Indonesia Mengajar ini menjadi batu lompatan ke arena politik, utamanya ke pencalonan presiden. Beliau umumnya memberikan jawaban yang tidak pasti. Tapi secara bahasa, Pengajar Muda memahami bahwa gerakan Indonesia Mengajar ini memang murni sebuah gerakan yang ingin “merajut tenun kebangsaan” tadi.

Banyak persuasi lain yang dilontarkan Pak Anies yang lumayan inspiratif, seperti “melunasi janji kemerdekaan”, “setahun mengajar seumur hidup menginspirasi”. Untuk anak muda yang ‘galau’ dan lagi semangat-semangatnya ingin berkontribusi kepada bangsa dan negara ini, inspirasi dan persuasi semacam ini sangatlah efektif. Beberapa dari antara kami sampai rela meninggalkan pekerjaan di luar negeri dengan gaji dan fasilitas wah dan bergabung menjadi Pengajar Muda. Menjadi Pengajar Muda dan langsung terjun ke desa menjadi bagian dari warga dengan berbagai karakter dan tantangannya.

Saya sendiri mengambil cuti tanpa gaji selama setahun dari firma hukum tempat saya bekerja. Saya juga mempersiapkan diri untuk tidak digaji dari Indonesia Mengajar. Hebatnya, Indonesia Mengajar memberi remunerasi yang tidak kalah dengan gaji karyawan swasta! Indonesia Mengajar benar-benar program yang luar biasa, membuka mata generasi muda kepada kondisi Indonesia sesungguhnya, sambil melatih kepemimpinan.

++

Februari 2013, saya bangga mendengar Pak Anies menjadi ketua Komite Etik KPK kasus bocornya sprindik Anas Demokrat. Selang 7 bulan kemudian, keadaan total berubah. Pak Anies maju pada konvensi Partai Demokrat, ingin menjadi capres menggunakan kendaraan yang menjadi gunjingan banyak orang dengan isu korupsi Hambalang. Kekecewaan di antara Pengajar Muda banyak meski tak terucap.

Kami mulai bertanya-tanya apakah Indonesia Mengajar ini murni sebuah gerakan di bidang pendidikan, atau hanya batu loncatan? Spekulasi muncul tanpa jawaban pasti. Apakah Pak Anies sudah memikirkan risiko bila sampai ada sponsor yang menahan dana atau menarik dana, karena takut dana yang diberikan ke Indonesia Mengajar malah digunakan untuk kepentingan politik tersebut? Langkah Pak Anies ini saya sayangkan sekali karena membawa risiko kepada suatu program baik yang baru mengembangkan sayapnya. Apakah ambisi politik Pak Anies menjadi capres ini segitu besarnya?

Untunglah Pak Anies tidak memenangkan konvensi partai itu. Di dalam hati kecil saya, saya memang berharap beliau terlebih dahulu membuktikan diri dengan memegang jabatan yang cukup strategis, yaitu Menteri Pendidikan. Jabatan itu sangat sesuai dengan jalan hidup Pak Anies yang adalah Rektor Paramadina dan penggagas Indonesia Mengajar.

Cerita saya beralih ke kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014. Saat itu saya sudah bekerja di suatu firma hukum. Saya sangat bersyukur atas kemenangan Jokowi itu. Jokowi adalah simbol harapan, dan representasi dari suksesnya masyarakat biasa yang bisa menembus lingkar kekuasaan dan menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Setelah mendengar pemberitaan di media bahwa Jokowi-JK membentuk tim transisi, Saya berinisiatif menghubungi Pak Anies mengucapkan selamat sekaligus menanyakan, kira-kira apa yang dapat dibantu. Tak disangka, beliau langsung merespon baik dan menawarkan saya untuk membantu beliau. Saat itu beliau adalah Deputi D Tim Transisi, yang mengurus kesejahteraan rakyat.

Di titik inilah saya lebih jauh mengenal sisi profesional Pak Anies. Mirip seperti yang saya lihat di Indonesia Mengajar, beliau sering menyampaikan pandangan atau gagasan pada level yang makro. Jarang sekali saya mendengar turunan teknis dari ide besar Pak Anies. Karenanya, saya dan tim sangat beruntung karena kami dipimpin oleh Ibu PW, seorang eksekutif yang mengambil cuti dari suatu firma konsultan internasional. Sehari-hari kami bekerja di bawah bimbingan Ibu PW, dan Pak Anies jarang sekali terlihat berkantor bersama kami. Dari media kami tahu bahwa pada masa itu beliau cukup sering menemani Pak Jokowi.

Saya pribadi menyadari bahwa hal ini tidak ideal (tidak memimpin proses perumusan produk Deputi D sebagai turunan dari gagasan besar yang disampaikan Pak Anies). Tapi saya tidak mau memusingkan hal di luar jangkauan saya. Saya hanya mencoba bekerja terus dan berharap agar situasi ini berubah, supaya Pak Anies kembali fokus ke dalam Deputi D, dan mulai mengambil langkah manajerial konkret. Mengapa? Karena latar belakang dan karakter anggota Deputi D sangatlah beragam. Ada yang dari sektor swasta finansial, kalangan masyarakat sipil sampai basis relawan Jokowi-JK, sehingga tim kami membutuhkan seorang pemimpin (yang memang sudah punya nama) yang seharusnya hadir, memimpin tim, menguasai data di hadapannya untuk mencapai tujuan dari dibentuknya Deputi D.

Sayangnya, sampai dengan akhir masa kerja, hal ini tidak terjadi. Mungkin saja Pak Anies sudah mendelegasikan mayoritas kerjanya kepada PW. Namun delegasi kerja tidak mungkin total menyerahkan semuanya kepada orang lain, tanpa hadir memberikan panduan dan arahan konkret kepada kami. Seandainya Pak Anies lebih intensif hadir dan memimpin kami, tentu produk akhir Deputi D akan lebih baik lagi.Pada titik ini, saya menyadari bahwa peranan dan keunggulan Pak Anies adalah mengajak dan menginspirasi orang untuk mau ‘turun tangan’ dan melakukan sesuatu untuk republik ini. Ini adalah peranan yang sangat penting di tengah apatisme generasi muda untuk berpolitik dan bernegara, dan peranan yang memang paling pas untuk dijalankan Pak Anies. Tetapi menjadi pemimpin dengan kemampuan manajerial yang mumpuni? Ini yang belum bisa dilihat dari Pak Anies.  

Cerita ini berlanjut dengan terpilihnya Pak Anies sebagai Menteri Pendidikan. Banyak Pengajar Muda yang bersyukur akhirnya Pak Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Tentunya Pak Anies adalah orang yang tahu betul potret pendidikan di Indonesia, karena beliau sebagai bagian dari Indonesia Mengajar tentu sudah mendapatkan banyak sekali laporan dari Pengajar Muda tentang keadaan pendidikan di daerah dan berbagai praktek korupsinya (Undang-Undang Dasar mengamanatkan 20% dari APBD untuk pendidikan. Ada gula ada semut!), dan juga sebagai Deputi D Tim Transisi yang mengurus bidang pendidikan. Saya berharap ini menjadi ajang pembuktian kemampuan beliau dalam membuat perubahan di Indonesia, paling tidak membuat tata kelola yang baik di dalam Kementerian Pendidikan dengan segudang daftar masalah.

Nyatanya tiada yang berubah. Distribusi Kartu Indonesia Pintar tidak mencapai target. Bahkan Agustus 2016, Menteri Keuangan menemukan Rp 23,3 triliun dana yang salah perencanaan. Dana yang ada tidak boleh diberikan kepada guru yang memang tidak ada (salah data) atau yang gurunya ada tapi belum bersertifikat. Apakah memang Pak Anies masih tidak melaksanakan pekerjaan manajerial dan hanya melepaskan pekerjaan teknis sepenuhnya kepada bawahannya, yang punya segudang kepentingan dan dosa lama? Entah. Saya hanya bisa menduga dua hal di atas menjadi sebagian pertimbangan Pak Jokowi ‘mencukupkan’ tugasnya hanya selama 1 tahun 9 bulan.

+++

Saya pribadi tergerak membuat tulisan ini, setelah tahu Pak Anies bertandang ke markas FPI pada 1 Januari. Okelah, Pak Anies sudah menjadi politisi yang berambisi menjadi Gubernur DKI, syukur-syukur bisa menjadi Presiden RI. Dan secara politik, memang saya tidak perlu baper bila tetiba Anies menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam menjaring suara. Tetapi berkunjung ke FPI, kemudian membela diri dengan mengatakan ‘harus menjadi pemersatu semua pihak’? Itu jawaban tidak jujur.

Jadilah pemersatu dan pergi ke markas FPI setelah anda jadi pejabat. Pergi ke FPI sebelum menjadi pejabattidak lain adalah taktik meraih suara. Meraih suara ke pihak yang dengan entengnya mengoyak-oyak tenun kebangsaan! Teringat pernyataan Pak Anies pada 2014, yang menyerang Prabowo Subianto dengan menuding bahwa Prabowo berjanji seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia, padahal kata Pak Anies, Prabowo justru mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI.

Selang dua tahun, Pak Anies telah berubah secara ekstrem. Mungkin Pak Anies adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya. Dari menjual kata-kata inspirasional sampai memberi angin surga kepada kelompok yang jelas-jelas menganggap bahwa NKRI ini hanya diperuntukkan untuk satu agama saja. Melihat Pak Anies hari ini, entah apa lagi yang dapat dilakukan beliau demi mencapai ambisinya yang mungkin ingin jadi Presiden? Kunjungan beliau ke FPI inilah garis tegas respek saya kepada Pak Anies, yang sukses menginspirasi saya 5 tahun lalu untuk terjun ke dalam sistem. Karena ambisinya, Pak Anies hari ini bukanlah Pak Anies 5 tahun lalu, yang mencoba merajut tenun kebangsaan.

Dia dulu tidak pernah bertanya kepada saya, apa agama saya waktu saya mendaftar Indonesia Mengajar dan menawarkan diri membantu dia di Tim Transisi. Mungkin rekan-rekan ingat, Pak Anies sudah katakan di Mata Najwa bahwa dia meyakini pemimpin itu harus memeluk agama Islam. Menjadi miris bila memikirkan golongan minoritas yang mendaftar Indonesia Mengajar sebagai bekal kepemimpinan di masa mendatang, karena bekal yang didapat tak dapat dilaksanakan. Bhinneka Tunggal Ika mau ditaruh dimana?

Sepertinya benar teori Abraham Lincoln,

Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.

Pak Anies sudah teruji dan gagal bahkan sebelum dia diberi kekuasaan.

Setelah melihat cara Pak Anies bekerja dan Pak Ahok bekerja, memang dua orang ini tidak dapat dibandingkan, karena keduanya ada di tataran yang berbeda. Pak Anies adalah konseptor, sedangkan Pak Ahok adalah eksekutor sekaligus konseptor yang sangat baik. Pak Anies ringan mengatakan iya dan merangkul seluruh pihak, sedangkan Pak Ahok adalah orang yang bisa mengatakan tidak tanpa harus berpura-pura.

Saya teringat pertama kali melihat Pak Ahok (sebagai cawagub) pada kampanye pilkada DKI 2012 yang menolak permintaan kelompok warga yang minta dibuatkan lapangan, dengan imbalan warga setempat akan memilih Jokowi-Ahok. Alih-alih mengiyakan demi suara, Pak Ahok malah mentah-mentah menolak permintaan itu, karena menurut beliau tidaklah adil untuk warga lain yang tidak memilih Pak Ahok. Pak Ahok saat cawagub 2012 masihlah sama dengan Gubernur 2017. Aspek kepemimpinan Pak Ahok ini pun diamini oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mengatakan, “Seni kepemimpinan adalah mengatakan tidak, bukan iya. Sangatlah mudah untuk mengatakan iya”.

Pak Ahok memberantas korupsi dengan cara menaikkan gaji untuk menghancurkan corruption by need (korupsi karena kebutuhan), sedangkan Pak Anies rumornya mencoba memberantas korupsi dan PNS tidak berkinerja baik dengan dialog hati ke hati secara rutin. Saya pribadi, setelah dua tahun bekerja di DKI Jakarta dengan praktek koruptif warisan rezim lama, rasanya hampir mustahil untuk meminta orang berubah dengan kesadaran sendiri tanpa mencari akar permasalahan dan secara konkret memperbaikinya. Perlu cara keras untuk melumerkan hati yang sudah keras terpapar nikmatnya korupsi selama puluhan tahun!

Pak Ahok memberantas korupsi dengan membuat e-budgeting agar dapat menutup celah permainan perencanaan anggaran (masih ingat kan anggaran siluman UPS?), sedangkan Pak Anies malah salah merencanakan anggaran sampai dengan 23 T.

Saya tidak mengatakan bahwa Pak Anies ini adalah orang yang jahat. Tidak sama sekali! Pak Anies ini memiliki hati yang baik dan ambisi. Sayangnya ambisi beliaulah yang lebih menguasai hati beliau hari ini. Pak Anies punya keunggulan dalam menginspirasi dan mengajak orang untuk turun tangan namun saya hanya menegaskan bahwa bukanlah porsi Pak Anies menjadi administratur untuk membenahi benang kusut DKI Jakarta.

Selayaknya penyakit kanker yang perlu diobati dengan kemoterapi, tidaklah mungkin membenahi DKI Jakarta yang kusut dan sudah sakit kronis hanya dengan kalimat yang santun dan ide besar tanpa kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang mumpuni. Porsi paling bermanfaat adalah menjadi inspirator dan mengajak anak-anak muda Indonesia untuk tidak berpangku tangan, tapi turun tangan membenahi republik ini.

Demikian catatan jongos ini. Pasti banyak pihak yang pro dan kontra. Wajar. Tapi inilah demokrasi, di tengah masyarakat yang masih belajar berdemokrasi selepas rezim lalu. Harapan saya, tulisan ini sedikit banyak membawa manfaat bagi masyarakat DKI. Semoga.

---

Rian Ernest
Pengajar Muda Angkatan II – Daerah Penempatan Kabupaten Rote Ndao, NTT

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: kompas_data

Filename: partials/read.php

Line Number: 110

Backtrace:

File: /var/www/html/kotaksuara/application/views/include/partials/read.php
Line: 110
Function: _error_handler

File: /var/www/html/kotaksuara/application/views/include/content.php
Line: 19
Function: view

File: /var/www/html/kotaksuara/application/views/template_view.php
Line: 109
Function: view

File: /var/www/html/kotaksuara/application/controllers/Read.php
Line: 145
Function: view

File: /var/www/html/kotaksuara/index.php
Line: 315
Function: require_once

www.kompasiana.com/rianernest


Selengkapnya...

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

    KOMENTAR : 56
  • marisa prasetya01 Maret 2017 13:45:02

    lebih seru komentar nya daripada artikelnya ...

  • bima putra14 Februari 2017 17:27:19

    mas ernest saya yakin adalah salah satu manusia cerdas di Indonesia. Oleh karena itu jalan karirnya baik
    pertanyaan besar ketika mengaku sebagai "orang dalam" tapi tidak paham dengan pelintiran berita tentang 23T itu.
    anda tentu tahu faktanya.. tapi mengapa anda mengungkap seakan anda adalah awam yg merasa fitnah itu betul-betul fakta.
    Integritas sepertinya bukanlah menjadi irisan dalam diri anda. Untuk seluruh pembaca artikel ini yang budiman, izinkan saya dengan segala kerendahan hati meluruskan kejadian yang menjadi bengkok karena tulisan ini.. KEMDIKBUD TELAH MENYELAMATKAN 23T UANG NEGARA.
    http://www.jakartamajubersama.com/meluruskan-isu-anggaran-tunjangan-profesi-guru-kelebihan-rp23t

    • Gunawan Gunawan18 Februari 2017 08:40:48

      Itu salah hitung, kesalahan sangat fatal oleh kuasa anggaran apalagi sampai tingkat menteri sbg kuasa anggaran tertinggi. Ajuan dari dinas hingga ke kementrian itu melalui tahap yg tdk mudah hingga akhirnya diajukan menjadi rapbn. Alasan krn mutasi, naik jabatan dll itu jelas tdk masuk akal hanya menjadi bahan lelucon. koreksi anggaran 23T itu kekonyolan. Hebatnya lagi anies mlh menyalahkan daerah pdhl itu jelas2 salah dari kementerian. Daerah lbh spesifik dinas hanya sebatas mengajukan. Dg mengatakan daerah itu kesannya pemda yg salah pdhl lingkup dinas dan itu dlm konteks alokasi dana dari kementerian.

      Anies pernah mengatakan spy pemimpin tdk mempermalukan anak buah didepan umum harus dg cara lembut. Sayangnya anies tdk sadar dg kelembutan jg 😜

      Silakan pelajari dulu mekanisme penerbitan skpt

  • Indriyani A Rachman18 Februari 2017 00:48:02

    Artikelnya seperti cerita horor pembunuh berdarah dingin ataukah seperti politik era perang bintang sofyet america. Tetapi saya tidak lagi ber-KTP Jakarta, saya berdoa untuk Jakarta, setidaknya paslon 2 paslon 3 = 5, tetap saja bilanagan prima, hehehehehe

  • Maykada Harjono17 Februari 2017 19:58:46

    Anies yang menjadi rektor tanpa pernah jadi dosen. Anies yang menggagas Indonesia Mengajar tanpa pernah mengajar. Saya sangat benci orang-orang yang melewati proses dan sekedar mengejar hasil. Anies ini contoh buruk bagi pemuda Indonesia.

  • Hendrie Santio 17 Februari 2017 18:54:20

    debat pilgub dki 2017 pertama, dukungan luar biasa mnc group untuk Anies, apalagi yang bikin saya kurang percaya dengan beliau

  • Jos Rampisela13 Februari 2017 22:27:15

    Anies? bwahahaha sejak pertamakali melihatnya di konvensi abal2 kelasnya uda ketahuan.
    Apalagi setelah loncat ke Jokowi sudah sangat jelas ambisinya. Syukurlah presiden Jokowi segera mencukupkannya.

    Ngemeng2 Indonesia mengajar sudah angkatan berapa dan berapa jumlahnya? Apa makin bertambah besar sampe hari ini ato sudah menjelang ajal?

    • Afif Ucok Alhariri14 Februari 2017 06:48:08

      Sudah 13 angkatan dengan total pendaftar terakhir 10.213 orang.

      • john r bauw14 Februari 2017 11:12:00

        sayang sekali, indonesia mengajar menganaktirikan kearifan lokal, kami menjadi orang asing di kampung halaman kami sindiri. Dan orang lain datang mengambil piring nasi yang disediakan untuk kami. Salam

      • Jos Rampisela14 Februari 2017 13:47:37

        Menyedihkan, ada 10 ribu orang terhipnotis mario teguh.

        Sistem pendidikan yg baik bukan dibangun model relawan yg cuman 1 tahun bertugas.
        Pendidikan harus membangun manusia yg utuh, gimana pengajar kontrak bergilir 1 tahun akan mampu membangun karakter dengan kearifan lokal dengan sistem demikian?

        Pengabdian guru sepanjang hayatnya. Sangat sulit diganti dengan relawan yg hanya meluangkan waktu menyalurkan hasrat sesaat. Mudah2an tak ada relawan IM yg suap-suapan antar laki spt model Anies dengan Rafi, ntar murid ikutan apa kata dunia?

      • Heri Santiko14 Februari 2017 16:06:01

        Terus kalian berdua yang nyinyirin indonesia mengajar sudah berbuat apa untuk pendidikan indonesia? barangkali bisa di share sesuatu yangbaik untuk pendidikan yang pernah dilakukan kalian siapa tahu bisa di adopsi dan replikasi untuk kebaikan bersama.

      • Jos Rampisela14 Februari 2017 20:31:13

        sudah bayar pajak dong, agar KIP tepatguna ditangan menteri yg jujur. Menteri yg lalu nyaris menyia-nyiakan 23,3T uang rakyat. hehehe.

      • Heri Santiko16 Februari 2017 11:37:07

        mungkin bisa aktivitas yang lebih spesifik yang di share bung, yang belum orang kebanyakan lakuin gitu bung buat referensi saya. sepertinya bayar pajak mah kita juga sudah sama-sama lakuin. Misal kalau semua siswa dapat KIP tapi gurunya ga datang ke sekolah gimana ya bung? mungkin bisa kasih solusi untuk permasalah klasik macam ini.

      • Jos Rampisela16 Februari 2017 12:51:23

        bwahahaha siswa dapat KIP guru nggak datang ke sekolah?
        Ente ngomong guru nggak datang karena sakit gigi ato diusut aparat karena anggaran 23,3 juta salah alokasi? Beda cara mengatasinya. hehehe

      • Heri Santiko16 Februari 2017 16:51:15

        Itu sih salah satu contoh tantangan yang ditemukan di sekolah yang pernah saya temukan bung (pernah menemukan ini di maluku, jambi, dan kalimantan barat). , Siswa hadir tepat waktu (mungkin sekarang dan dapat KIP semua) tapi banyak loh guru yang tidak hadir buat ngajar sampai berbulan-bulan atau datang jam 9 pulang jam 11 padahal Gurunya malah gajian bung tunjangan wilayah pedalamannya besar pula. kira-kira kalau nemuin tantangan seperti itu selain bayar pajak diapain ya bung? bisa share kali bung buat referensi.

      • Jos Rampisela16 Februari 2017 23:49:45

        bwahahaha, kalo ada kejadian bgtu justru tugas menteri pendidikan menyelesaikannya secara struktural, bukan dengan mencari pengangguran untuk jadi relawan bertugas 1 tahun, lalu sang relawan belagak pahlawan karena sudah mengajar berbulan-bulan di tempat yg gurunya tidak masuk. Makanya Anies dipecat karena tidak menyelesaikan persoalan secara sistem tapi jadi pemadam kebakaran saja. Berpikir sistem: relawan bukan solusi. Sungguh naif kalo pejabat berpikir relawan sbg solusi.

        Contoh cara menyelesaikan masalah kebersihan di Jakarta: bukan dengan mengundang relawan bersih-bersih kota tetapi membentuk pasukan orange. Kalo Anies sbg mendikbud ketemu guru2 spt yg ente sebutkan, cara yg paling mudah: konsultasi dengan Ahok. bwahahaha.

  • kuzzy16 Februari 2017 23:27:10

    sedih bacanya

  • .e .e14 Februari 2017 10:39:32

    Ahok itu jelas tidaklah sama ketika menjadi cawagub 2012 lalu, saya masih ingat ketika ahok meminta kepada bpk gubernur Fauzi bowo untuk mengambil cuti kampanye pada pilkada dki 2012 lalu, namun sekarang kenyataan berbalik ahok bahkan mengajukan judicial review ke MK agar ahok tidak perlu cuti untuk pilkada dki 2017 ha..ha..ha
    Bicara tentang kunjung mengunjungi apakah salah seorang calon pemimpin(anies) mengunjungi fpi?
    Pemimpin itu harus merangkul semua pihak tidak hanya pihak yang mendukungnya namun juga pihak yang tidak mendukungnya, agar terciptanya dki yang aman, damai dan tidak terkotak katakan seperti yang terjadi selama 2 tahun terakhir ini.

    • Hengky Koko14 Februari 2017 11:27:23

      Mengenai pengambilan cuti, anda kurang tepat. Justru pak Ahok disini terlihat tegas bertindak atas dasar hukum yg jelas. Ketika pak Foke tidak mengambil cuti yg diwajibkan hukum, Pak Ahok mengingatkan. Nah pada pilgub kali ini, Pak Ahok yg merasa seharusnya memang tidak perlu cuti, mengajukan usulnya melalui jalur yg semestinya, jalur hukum, dan itu dilakukan untuk gubernur2 setelah dia. Dianya kan tetap cuti, karena memang diharuskan.

    • Alomni Omni14 Februari 2017 12:07:00

      semua pihak dirangkul?
      termasuk koruptor dan begal anggaran?

  • PaklekNasrurhanif15 Februari 2017 11:06:51

    Tulisan cerdas dan sangat subyektif dari seorang Ahoker, banyak menggali referensi Bang jangan hanya melihat dari "kejongosan" anda lihatlah dari sisi lain siapa Ahok sebenarnya. contoh Gaji besar PNS bukan satu cara utama untuk memberantas Korupsi orang Ditjen pajak saja yang berlipat-lipat kasus korupsi masih saja terjadi. Mentalitas dan sistem keuangan birokrasi yang transparan dan ketat merupakan salah satu kombinasi yang mungkin untuk mengurangi korupsi. Ahok sekarang sudah bermain diwilayah politik dan terkesan secara jelas takut kehilangan jabatan, retorika Ahok yang membuat anda kagum tentang Ahok itupun saya anggap anda terlalu lugu. Ahok itu punya misi strategis yang tidak mungkin dibaca jika anda hanya jadi "Jongos" politik kekuasaan dimata Ahok dan Anis ya sama saja masalahnya apakah punya kemanfaatan yang optimal untuk rakyat mayoritas menengah bawah (bukan sekedar KJP/KJS, rusun dll lo) atau sekedar menyenangkan/melayani masyarakat kelas atas. Saya pikir Anies dan Ahok sama saja ingin meraih kekuasaan tetapi apakah tujuannya mulia untuk kemaslahatan keseluruhan masyarakat? harus dibuktikan lebih lanjut........bukan hanya melihat ketika jadi "Jongos' saja.

  • sidik pamungkas15 Februari 2017 00:40:50

    pada akhirnya, "becik ketitik, ala ketara".

  • Ksatriawangsa14 Februari 2017 19:27:34

    Stereotype orang mau kampanye menjatuhkan
    adalah menyerang dengan kata AMBISI

    Artikel SAMPAH/JONGOS

    • Jos Rampisela14 Februari 2017 20:33:03

      hadeh ... ente baca berita kompas ajah salah sok menilai lagi dimari.

  • Baba Makmun14 Februari 2017 17:59:23

    ikut menyimak artikel dan semua komen

  • Pebrianov 14 Februari 2017 14:51:35

    Pergi ke FPI sebelum menjadi pejabattidak lain adalah taktik meraih suara. Meraih suara ke pihak yang dengan entengnya mengoyak-oyak tenun kebangsaan!

    Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/rianernest/catatan-jongos-dua-cagub-dki_58a19bcadf22bd10091f6c7b

  • Tom Mirant14 Februari 2017 14:34:51

    .
    Dulu .... aku salah satu "pengagum Anies ..... salah satu "tokoh" cerdas dan santun yang menginginkan negeri ini menjadi jauh lebih baik.

    Kemarin ..... tanpa dia sadari .... terbuka sedikit "TOPENG" nya ... persis "MOTIVATOR KONDANG" yang terbuka wajah aslinya ..

    Kini .... makin terbukalah .... siapakah "ANIES" sesungguhnya

    .

  • Alomni Omni14 Februari 2017 12:06:17

    ketika kekuasan merajai dan hati hamba lekas pergi, terlihatlah karakter yang sesungguhnya

    segala sesuatu untuk kekuasaan atau kekuasaan untuk segala sesuatu

  • Saut Donatus14 Februari 2017 11:28:28

    Menarik artikelnya..
    Salam

  • jackie zakaria14 Februari 2017 11:24:52

    Tulisan bagus...

  • fachrul fuady14 Februari 2017 11:12:35

    Apakah anda "bawahannya, yang punya segudang kepentingan dan dosa lama? Entah. Saya hanya bisa menduga"

    "Meraih suara ke pihak yang dengan entengnya mengoyak-oyak tenun kebangsaan! "

    Jd sampai sekarang anda ga paham juga siapa yg dg enteng mengoyak-oyak tenun kebangsaan??? Oh come on...untung anda ga ngajar lg yaa..kasian anak bangsa klo d ajar sm orang kyk begini..

  • .e .e14 Februari 2017 10:39:11

    Ahok itu jelas tidaklah sama ketika menjadi cawagub 2012 lalu, saya masih ingat ketika ahok meminta kepada bpk gubernur Fauzi bowo untuk mengambil cuti kampanye pada pilkada dki 2012 lalu, namun sekarang kenyataan berbalik ahok bahkan mengajukan judicial review ke MK agar ahok tidak perlu cuti untuk pilkada dki 2017 ha..ha..ha
    Bicara tentang kunjung mengunjungi apakah salah seorang calon pemimpin(anies) mengunjungi fpi?
    Pemimpin itu harus merangkul semua pihak tidak hanya pihak yang mendukungnya namun juga pihak yang tidak mendukungnya, agar terciptanya dki yang aman, damai dan tidak terkotak katakan seperti yang terjadi selama 2 tahun terakhir ini.

  • Felish14 Februari 2017 10:20:25

    makin ke sini makin keliatan belangnya Anies Baswedan, ambisius dan haus kekuasaan sehingga melupakan semua hal baik yang pernah dirintisnya,,sayang sekali....

  • Pringadi Abdi Surya14 Februari 2017 09:53:17

    andai tulisan ini ditulis sebelum masa tenang, saya pasti respek dengan tulisan dan penulisnya. sayangnya, memang harihari gini banya orang lebih memilih egony ketimbang aturan.

  • La Nogan14 Februari 2017 09:33:33

    Terimakasih sharingnya. JAdi semakin tahu siapa Anis sesungguhnya

  • Nurdin Taher 14 Februari 2017 08:41:31

    jadi tahu ada persaingan antara hati dan ambisi, ...

  • Erni Berkata14 Februari 2017 04:26:15

    Sangat mendetail....menarik sekali pengalaman pribadinya....salam

    http://m.kompasiana.com/erniwardhani1/seragam-sekolah-pemicu-perpecahan_589eae94989373180515d3db

  • Venusgazer EP14 Februari 2017 02:22:32

    thanks dh berbagi testimoni....

  • Hanny Setiawan14 Februari 2017 01:18:45

    Hi Rian, masih ingat saya? :) ...life must go on..Tenun Kebangsaan itu harus terua dipertahankan dan diperjuangkan.

    Manuver mas Anies memang "mengagetkan" relawan2 kebhinekaan....

    Salam..semoga bisa ktm lagi...

  • F. Tanjung14 Februari 2017 00:48:02

    Waaah...True History nya menarik sekali. Jadi tahu sy satu sisi dgn Mas Anis.
    Ambisi.....hanya itu yg didapatkan dr sosok beliau. Salam

  • hendyono sasongko14 Februari 2017 00:47:08

    Ada sedikit baca soal minoritas-mayoritas dr segi agama, pendapat saya semakin jelas klo agamaku sekarang lg diperkosa sm oknum2 umat yg jd aktor politik. Nanti Indonesia kiamatnya kaya apa ya hancurnya..semoga Allah S.W.T menyadarkan orang2 yg memperkosa agama.

  • Jhony Walker13 Februari 2017 23:42:21

    Kalo katanya Pak Djarot: "Pandai merumuskan gagasan yang mengapung di awang-awang".

  • Siti Masriyah Ambara13 Februari 2017 23:24:03

    Menarik membaca pengalaman alumni IM yang masih punya nalar untuk menilai ada sesuatu yang perlu dikoreksi dari sang pendiri. Terima kasih sudah berbagi.

  • Posma Siahaan13 Februari 2017 23:21:19

    Garis tangan seseorang sudah ditentukan. Menjadi pemenang atau hanya hanya rame-ramein aja

  • Agoes Widjanarko13 Februari 2017 23:18:22

    bagus tulisannya penglaman pribadi yg baik diceritakan secara jujur

  • Susy Haryawan13 Februari 2017 22:20:25

    terima kasih atas pemaparan kesaksian langsungnya, ambisi dan hati yang baik dan menang yang mana, salam hangat

  • Joe pedagang biasa13 Februari 2017 20:57:50

    Pak Rian, Gadget Sy tang ting tang ting terus nih,hehe
    Salam hangat. Sesukses selalu untuk besok.

  • Teha Sugiyo13 Februari 2017 20:48:41

    artikel yang mencerahkan mas Rian. Ambisi emmang sering kali membutakan kebeningan nalar. salam.

  • Pabbubu13 Februari 2017 20:29:39

    Sangat setujuh ini yg dinamakn bunglon. Santun dengan kata terukur cuma gagasan tidak rinci dan gak implementasi (diawang awang)

  • Fantasi13 Februari 2017 19:16:49

    Akhirnya, ada juga alumni IM yang berbicara. Terimakasih.

    Saya pengagum Pak Anies dan memuji Gerakan Indonesia Mengajar. Kalimat dalam artikel ini merangkumkan pandangan saya juga tentang Pak Anies :

    " .... Pak Anies hari ini bukanlah Pak Anies 5 tahun lalu, yang mencoba merajut tenun kebangsaan."

    Sayang sekali.

    • Pabbubu13 Februari 2017 20:25:47

      dulu swaktu team sukses jokowi bilang tidak setujuh dengn istilah minoritas dan mayoritas

      he he kemarin karna mau jadi gub dki bilang tidak setujuh apabila dibilang demokrasi itu benar jika minoritas menang di dki.

      LO singgung lagi minoritas dan mayoritas. Pie to kang Anis nuh kasep

  • Johny Widjaja13 Februari 2017 18:57:03

    Terima kasih atas kesaksiannya Bung ..

    • Rian Ernest13 Februari 2017 19:01:50

      sama-sama bung. ini hanya sekedar testimoni saja. semoga menikmati

Poling
Dukung Jagoanmu pada Pilkada Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama
Djarot Saiful Hidayat
VOTE
Anies Baswedan
Sandiaga Uno
VOTE
Analisis
Bersatu Pasca Terkotak-kotak
ilyas as
06 Mei 2017
Polling Elektabilitas Ridwan Kamil dalam pencalonan Gubernur Jawa Barat
Lucky Jamaludin
03 Mei 2017
Seandainya Ahok Lahir dan Besar di Jawa
Pinto Basuki
26 April 2017
TWEET Kotak Suara